Tuty Ocktaviany - Okezone
Kepada okezone.com, Wulan mengaku memang ada arah ke situ, namun saat ini masih dalam proses. Untuk mengetahui selengkapnya, berikut ini petikan wawancara dengan Wulan Tilaar.
Sebenarnya posisi Anda di Martha Tilaar Group sebagai apa?
Saya ini operasionalnya sehari-harinya di PT Martha Beauty Gallery, yang merupakan anak perusahaan dari Martha Tilaar Group. PT Martha Beauty Gallery yang berpusat di Wahid Hasyim itu sebenarnya menangani empat divisi, seperti Puspita Martha International Beauty School, Martha Tilaar Salon and Day Spa, Cipta Busana Martha Tilaar, dan Art and Beauty. Tetapi saat ini Puspita Martha International Beauty School sudah merger dengan Martha Tilaar Salon and Day Spa. Nah, belakangan ini saya pegang yang benar-benar Martha Tilaar Salon and Day Spa. Namun sekarang, sebenarnya saya sudah harus masuk ke Puspita Martha secara total.
Berarti akan terjadi pergantian generasi lama ke generasi baru?
Memang rencananya begitu. Namun, saya harus akui walaupun kualitas pendidikan yang saya terima lebih bagus dibanding dengan generasi lama, tapi saya masih kurang pengalaman. Makanya pada awalnya saya memilih untuk ditempatkan ke anak perusahaan yang lebih kecil, yaitu Martha Tilaar Beauty Gallery.
Ketika saya di Martha Tilaar Beauty Gallery, saya jadi tahu semuanya. Kalau semisal saya di Martina Berto, yang memegang semua brand, tentu saya tidak dapat mengetahui secara detail karena terlalu besar cakupannya. Jadi kadang-kadang saya hanya terpaku pada satu divisi saja, yang malah membuat saya tidak tahu semuanya.
Kalau di tempat yang agak kecil, saya mau enggak mau mengetahui apa yang terjadi di tempat itu. Seperti di salon, saya tahu handuk tidak kering, orang tidak masuk saya tahu bagaimana rasanya, atau tamu sudah datang tapi terapis belum datang. Itu benar-benar saya alami.
Apakah yang dicari Mbak Wulan sudah didapatkan sekarang?
Saat ini saya memang sudah basah kuyup, sampai masuk angin segala. Ha-ha-ha. Kalau awal-awalnya sih masih setengah basah, karena saya tidak bisa berkerja secara total.
Pertama saya masuk company ini memang di Martino Berto, tapi divisi art and design. Hal itu karena disesuaikan dengan latar belakang keilmuan saya di bidang graphic design. Tapi karena terlalu besar itu, sudah banyak orang duduk di situ. Tangan saya itu ibaratnya setengah basah, tidak bisa kejebur atau tidak basah kuyup.
Setelah pindah di sini (Martha Tilaar Beauty Gallery) saya benar-benar dituntut inovatif untuk menciptakan menu-menu treatment baru. Walaupun imej, Martha Tilaar identik dengan tradisi kebudayaan Indonesia, namun kita tidak boleh ketinggalan dengan tren-tren dunia, semisal mandi coklat, kopi, atau cranberry, yang kami kenalkan baru-baru ini.
Apakah Mbak Wulan menikmati proses ini?
Untuk menuju ke sana memang harus step by step. Dengan saya diberi tanggung jawab yang kecil, kalau saya bisa melewatinya dengan baik, maka saya telah lulus dengan ujian itu. Makanya untuk diberi tugas yang lebih berat lagi saya jadi lebih siap.
Saya paling enggak suka, mentang-mentang anaknya Ibu Martha jadi langsung di awang-awang. Aku juga ingin membuktikan diri seberapa bisa sih saya bisa mengatasi pekerjaan dengan baik.
Salon itu lebih kecil dibanding dengan bisnis kosmetik yang besar. Nah kalau itu sudah fokus, kemudian sekolah lulus, maka dari itu mungkin orang mulai mengenal saya. Jangan tiba-tiba "jebret, sopo iku". Itu anaknya ibu Martha.
Dalam mencapai sesuatu hal, saya tidak ingin melakukannya secara instan. Semisal saya bisa kontribusi di okezone.com ataupun menjadi kontributor di salah satu media cetak, itu menjadi bagian dari proses yang saya jalani.
Adakah target dari Anda?
Target akhirnya memang ke arah itu. Namun sampai saat ini ibu masih aktif. Tetapi untuk even-even besar saya sudah mulai banyak terlibat.
Saya tidak mau langsung diberi jabatan yang tinggi, sementara saya masih belum mampu. Saya ingin berada di posisi itu karena sudah matang dan punya banyak pengalaman.
Apa yang membedakan Mbak Wulan dengan Ibu Martha?
Banyak. Saya juga bingung. Untuk menuju ke ibu itu berat banget buat saya. Menurut saya dia itu superwomen, pekerja keras, dan sangat ulet. Saya belum sampai ke situ. Saat ini saya baru menjalankan proses dan ingin terus belajar dan terus belajar.
Ibu selalu berpesan bahwa jikalau saya bisa menjalankan tanggung jawab kecil, maka tanggung jawab besar pasti bisa. Makanya sekarang saya bisa melihat sendiri jatuh bangunnya perusahaan, seperti karyawan itu gimana terhadap manajemen, kurang ini dan itu. Kalau saya cuma duduk di atas, saya cuma mendengar laporan saja.
Anda sering didaulat mendampingi Ibu Martha di beberapa acara. Tanggapan Anda?
Dulu masih kecil sih rasanya risih banget. Enggak enak aja, namanya ikut ibu pastinya dilihat orang. Cuma setelah dewasa, saya melihat inilah jalan hidup saya. Toh setelah saya menerima, jadi lebih enteng jalannya. Ternyata bisa, sesuatu yang tadi kita pikir tidak bisa, tetapi kita mau belajar dan sabar sedikit kita bisa.
Dulu saya enggak bisa, karena saya orangnya pemalu dan suka di balik layar. Mungkin karena ditulari oleh sifat ayahku yang orang rumahan, jadi aku enggak suka tampil di depan umum.
Saya memang banyak belajar dari ibu. Misalnya ibu bicara apa, saya lihat dan saya dengarkan jawabannya. Tak terkecuali juga saya belajar dari orang lain.
Apa sebenarnya mimpi Anda di kemudian hari?
Saya sih mimpinya ingin perusahaan ini go international beneran. Seperti Shisedo yang asli buatan Jepang, bisa dikenal di seluruh dunia. Saya ingin perusahaan ini juga seperti itu. Entah itu Sari Ayu, PAC atau Biokos, misalnya, yang bisa dengan mudah didapatkan di department store di luar negeri.
Bukankah produk dari Martha Tilaar Grup sudah dikenal oleh masyarakat luar negeri?
Sekarang ini baru Asean, meski di Jepang sudah ada (distributor). Saya ingin sekali bisa memiliki konter kecil dengan nuansa khas Indonesia di Harajuku, misalnya. Tapi memang untuk mewujudkan itu perlu investasi yang sangat besar.
Saya baru tahu bahwa orang Jepang itu tidak suka produk yang terlalu wangi. Berbalik dengan kita yang semakin wangi malah yang disukai. Makanya untuk bisa eksis di setiap negara, kami pun harus membuat produk yang sesuai dengan keinginan masyarakat di sana.
Apa target jangka pendek?
Kami ingin menguasai market Asia, meski produk kami sekarang sudah beredar di kawasan Asia, seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, dan lain-lain. Tapi untuk ke depan kami ingin lebih mantap lagi
Untuk spa, kami pun ada rencana membuka di Rusia, Honai, Malaysia pada tahun 2008-2009. Saat ini spa kami yang berada di luar negeri sekira 10 tempat.
Suksesnya perusahaan itu ditentukan oleh faktor apa saja?
Sumber daya manusia yang benar-benar berkualitas dan komitmen dari pemilik perusahaan untuk mempertahankan bisnisnya. Selama ini kita konsisten dan komitmen terhadap apa yang kita jalani itu memberikan jiwa terhadap perusahaan. Kita pun mencoba untuk kreatif untuk menampilkan sesuatu yang unik dan berbeda dengan produk lain.
Ibu juga menanamkan sikap bahwa kita harus memegang prinsip DJITU (Disiplin, Jujur, Inovasi atau Iman, Tekun, dan Ulet). Makanya saya tak heran jika ibu memang benar-benar sosok yang tekun banget dan ulet. Biasanya usai mengerjakan sesuatu pasti tidak berhenti, tetapi jalan terus.
Bagaimana menghadapi kompetitor yang semakin banyak?
Kita selalu berpegang pada komitmen untuk mengangkat tradisi Indonesia. Dari situlah kita menggali sesuatu yang unik. Makanya kita beda dengan yang lain. Tapi kita tidak boleh stagnan di situ, tetapi terus melakukan inovasi.
Pergantian tren terjadi berapa lama?
Paling enggak setiap tahun satu, itupun dari setiap brand. Tapi yang terjadi memang tidak semuanya keluar setiap tahun. Kecuali produk Sari Ayu, yang setiap tahun rutin diluncurkan dengan mengusung kekayaan alam di suatu daerah di Indonesia. (tty)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar